Gubernur pastikan pemindahan pedagang Kelok Sembilan murni demi keselamatan

id Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno. (Antara Sumbar/Miko Elfisha)

Ini demi keselamatan. Jika para pedagang terus dipertahankan di bahu jalan itu, nanti terjadi apa-apa siapa yang mau bertanggung jawab
Payakumbuh, (Antaranews Sumbar) - Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno memastikan pemindahan pedagang dari jembatan layang Kelok Sembilan yang terletak di Limapuluh Kota, murni karena pertimbangan keselamatan.

"Pemindahan pedagang dari Jembatan Kelok Sembilan demi keselamatan semua, baik pengendara maupun pedagang sendiri," kata Irwan Prayitno, diwawancarai usai melakukan Safari Ramadhan ke Masjid Hidayah, Kelurahan Padang Tinggi, Payakumbuh, Selasa malam (29/5).

Kegiatan berdagang di lokasi itu, katanya, selain bisa membahayakan keselamatan juga dapat menganggu kelancaran arus lalu lintas.

Ia juga mengatakan menggunakan bahu jalan sebagai tempat berdagang, adalah tindakan melanggar dan tidak sesuai aturan perundang-undangan.

Karena hal itu ia mengimbau agar para pedagang yang ada di jembatan layang saat ini, bisa memahami dan bersedia menempati tempat baru yang disiapkan.

Sebagai tempat pemindahannya, pemerintah menyediakan lokasi bagi para pedagang di Jalan Kelok Sembilan lama.

Mengingat jembatan layang ditargetkan tidak ada lagi pedagang, steril dari pedagang sebelum lebaran.

Saat ditanyai adanya permintaan wakil bupati daerah setempat yang meminta pemindahan pedagang ditunda, Irwan enggan berkomentar.

"Ini demi keselamatan. Jika para pedagang terus dipertahankan di bahu jalan itu, nanti terjadi apa-apa siapa yang mau bertanggung jawab," katanya.

Jika dikumpulkan pada satu tempat, lanjutnya, keselamatan pedagang alan lebih terjamin, dan kegiatan usahanya tetap berjalan.

Diberitakan sebelumnya, persoalan pedagang di jembatan layang tersebut telah terjadi sejak diresmikan pada 2013 dan belum terselesaikan hingga saat ini.

Jumlah pedagang yang berjualan di lokasi itu juga terus bertambah. Terakhir terdata 160 lebih pedagang yang mendirikan lapak menggunakan kayu dan terpal seadanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar