Jenazah seorang ABK di pulangkan ke tanah air oleh KBRI Dakar

id jenazah bandara

Jenazah seorang ABK di pulangkan ke tanah air oleh KBRI Dakar

jenazah (pixabay.com)

jenazah Duma diserahterimakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta antara Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Dakar, Atase Lutfi Jatmika, kepada Wakil dari Direktorat PWNI/BHI Kemlu, T.W. Soeseno, dan selanjutnya dari Kemlu jenazah diserahter
London, (Antaranews Sumbar) - Jenazah seorang anak buah kapal (ABK) warga Indonesia atas nama Duma asal Cirebon, Jawa Barat yang meninggal dunia di perairan Senegal karena sakit dibantu pemulangannya ke tanah air oleh Kedutaan Besar RI (KBRI) Dakar.

Pensosbud KBRI Dakar Dimas Prihadi kepada Antara London, Jumat, mengatakan almarhum sebelumnya bekerja di atas kapal Taiwan Chin Hsiang Wen selama lebih kurang tiga bulan sejak tiba di Dakar pada 10 Januari lalu.

Ia menjelaskan jenazah Duma diserahterimakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta antara Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Dakar, Atase Lutfi Jatmika, kepada Wakil dari Direktorat PWNI/BHI Kemlu, T.W. Soeseno, dan selanjutnya dari Kemlu jenazah diserahterimakan kepada pihak keluarga yakni paman almarhum Duma bernama Dakina bin Karmita.

Jenazah Duma lalu dikirim ke Cirebon dengan ambulans oleh BNP2TKI dan didampingi pihak agen PT Bintang Utama.

Berdasarkan hasil otopsi, penyebab kematian Duma adalah kematian alami setelah peritonitis akut, yaitu gangguan pencernaan dan penyebaran larutan enzim proteolitik di seluruh perut melalui lubang uterus lambung tanpa adanya pemacu jantung dan tanda penyakit menular.

KBRI Dakar mengawal proses pemulangan jenazah Duma yang dimulai sejak tiba di Dakar pada 12 April lalu dilanjutkan dengan proses verbal atau permintaan keterangan saksi di kantor kepolisian pelabuhan, penerbitan surat keterangan kematian, shalat jenazah sesuai hukum Islam, hingga serah terima jenazah ke pihak keluarga.

Selain Duma, di kapal tersebut juga terdapat delapan ABK/WNI lainnya yang rata-rata bekerja dengan masa kontrak selama dua tahun, demikian Dimas Prihadi.