BKSDA antisipasi konflik harimau

id harimau

Petugas BKSDA Sumbar siapkan kerangkeng. Antara Sumbar/istimewa.

Bukittinggi, (Antaranews Sumbar) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bukittinggi, Sumatera Barat menyiapkan dua perangkap atau kerangkeng untuk mengatasi konflik satwa yang terjadi di Koto Tabang, Jorong Muaro, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh Kabupaten Agam.

Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan Resor BKSDA Bukittinggi, AA Jusmar dikonfirmasi dari Bukittinggi, Minggu, memperkirakan ada tiga ekor harimau yaitu satu induk dan dua anak yang meresahkan masyarakat di wilayah tersebut.

Satu ekor anak harimau yang usianya diperkirakan di bawah dua tahun telah masuk perangkap pada Sabtu(14/4). Perangkap itu dipasang sejak 11 April 2018 dan diberi umpan keesokan harinya.

Anak harimau yang telah masuk perangkap tersebut akan tetap dibiarkan di lokasi perangkap untuk dijadikan penarik bagi dua ekor harimau lainnya.

Selanjutnya dua perangkap tambahan dipasang di sekitar perangkap pertama dan akan dipasang Senin(16/4).

"Kami siapkan dulu kerangkengnya dan sediakan kambing sebagai umpan. Mudah-mudahan besok pagi sudah bisa dipasang," ujarnya.

Sementara anak harimau yang sudah di dalam perangkap sampai saat ini dipastikan kondisinya sehat dan tetap dipantau serta diberi makan.

Ia menerangkan sebelumnya pada akhir Februari 2018 pihaknya menerima laporan bahwa tujuh ekor anjing milik warga di Koto Tabang telah hilang dan diduga dimangsa harimau.

Selanjutnya pihaknya melakukan pantauan ke lokasi dan menemukan jejak harimau di ladang warga lalu diambil tindakan pengusiran menggunakan suara meriam pada Maret 2018.

"Dalam kurun waktu itu bisa dikatakan setiap sekali dalam tiga hari kami temukan jejak baru di lokasi berbeda. Terakhir pengusiran pada Selasa (10/4) hingga akhirnya kami pasang perangkap pada Rabu(11/4)," jelasnya.

Ia mengingatkan warga agar berhati-hati ketika hendak ke ladang dan diminta mengakhiri kegiatan di ladang pada pukul 16.00 WIB.

"Harimau betina memiliki `home range` sekitar 40 kilometer dan harimau jantan 70 sampai 180 kilometer. Kalau daya jelajahnya lebih luas lagi. Kami minta warga sekitar agar hati-hati," tuturnya.

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar