Seratusan anak Padang Panjang belajar sastra gratis setiap akhir pekan

id Alvi Sena

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang, Alvi Sena. (ANTARA SUMBAR/ Irafebrianti)

Empat kelas awal masing-masing diikuti 20 anak. Dua kelas lain karena masih baru, jadi masih belasan anak. Karena sifatnya belajar dan gratis, anak-anak yang mau masuk kapan saja silakan karena selalu terbuka
Padang Panjang, (Antaranews Sumbar) - Seratusan anak di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar) mengikuti kelas belajar sastra gratis yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat setiap akhir pekan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang, Alvi Sena di Padang Panjang, Selasa, mengatakan sejak kelas sastra gratis dibuka pada Mei 2017, pada empat kelas rata-rata pesertanya berjumlah seratusan anak.

"Ide kegiatan berawal dari keinginan mendekatkan anak dengan buku karena kecenderungan sekarang akrab dengan gawai. Berhubung Padang Panjang baru punya Forum Pegiat Literasi, kami kerja sama melaksanakan kegiatan yang sifatnya sosial ini," katanya.

Ia menyebutkan empat kelas yang dibuka pada 2017 yaitu menulis cerpen, teater, "story telling" dan mendongeng. Kemudian mulai 2018 ditambah dua kelas yaitu menulis cerita anak dan adat dan budaya.

"Empat kelas awal masing-masing diikuti 20 anak. Dua kelas lain karena masih baru, jadi masih belasan anak. Karena sifatnya belajar dan gratis, anak-anak yang mau masuk kapan saja silakan karena selalu terbuka," katanya.

Sebagai tempat belajar, dimanfaatkan ruangan-ruangan yang tersedia di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

Ketua Forum Pegiat Literasi Padang Panjang yang juga pengajar kelas menulis di kegiatan itu, Muhammad Subhan mengatakan peserta yang ikut belajar tidak dibatasi usianya.

"Sekarang yang usia taman kanak-kanak (TK) sampai SMA ikut belajar. Tapi kami tidak ada batasan usia bagi yang ingin belajar," katanya.

Di kelas menulis, katanya, peserta diajarkan menulis karya non ilmiah seperti cerpen, puisi, resensi buku dan lainnya.

"Seperti Januari 2018 kami fokus belajar menulis puisi, bulan selanjutnya cerpen dan sekarang esai. Anak-anak juga didorong mengirim karyanya ke media cetak di Sumbar" katanya.

Pengajar kelas mendongeng, Niki Martoyo menilai belajar sastra itu akan membantu melatih kepercayaan diri anak.

"Misalnya di kelas mendongeng belajar vokal dan mengatur mimik wajah ketika bercerita. Ini akan membantu mengasah kepercayaan diri ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bukan tidak mungkin nanti bisa pandai berorasi seperti Soekarno," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar