Menurut akademisi, pendidikan tangani satwa liar penting hindari konflik hewan dan manusia

id fachrul

Akademisi Biologi STKIP PGRI Sumbar Fachrul Reza, M. Si (Antara Sumbar/M R Denya)

Padang, (Antaranews Sumbar) - Akademisi bidang biologi dari STKIP PGRI Sumbar Fachrul Reza, M.Si mengatakan masyarakat perlu diberikan pendidikan tentang penanganan satwa liar guna mencegah konflik antara manusia dan hewan.

"Adanya korban dari konflik yang terjadi antara manusia dan hewan akibat ketidakpahaman masyarakat pada kehidupan dan kebutuhan hewan, di sini pentingnya pendidikan," ujarnya di Padang, Jumat.

Menurutnya pendidikan penanganan satwa ini tidak harus dalam bentuk formal seperti pertemuan dalam kuliah atau sekolah.

Namun dapat dilaksanakan pada momen tertentu namun secara berkelanjutan.

Misalnya memberikan pendidikan penanganan satwa liar melalui pramuka atau mahasiswa penjelajah alam.

Ini penting sebab kegiatan menjelajah alam harus dibarengi dengan pengetahuan tentang hewan liar, termasuk habitat dan cara hidupnya.

Akan tetapi saat ini bukan hanya masyarakat yang bergerak dalam bidang tersebut saja yang perlu diberikan pendidikan, seperti warga di daerah rawan konflik dengan hewan.

"Pendidikan penanganan satwa liar ini juga bertujuan menjelaskan pentingnya harmonisasi hidup secara ekologi," kata dia.

Misalnya dalam menangani ular yang sering berkonflik di pemukiman juga perlu diberikan pendidikannya misalnya identifikasi ular berbisa dan tidak, evakuasi penanganan ular masuk pemukiman dan antisipasi saat terkena gigitan.

Sama seperti saat ada kedatangan hewan buas seperti harimau, masyarakat perlu diberi pengetahuan tentang cara melaporkan kepada pihak berwenang atau antisipasi awal saat hewan tersebut menyerang.

Kemudian pendidikan tentang alam seperti pemahaman tingkah laku hewan, area pergerakan hewan atau rantai makanan hewan juga perlu diberikan.

Hal ini perlu jadi perhatian pemerintah mengingat saat ini kepentingan pada alam semakin tinggi, sehingga perlindungan terhadap makhluk hidup harus lebih diperkuat. (*)

Pewarta :
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar