Kejari Bukittinggi Telaah Laporan Dugaan Penyimpangan Biaya Tak Terduga

id Kejari Bukittinggi

Kantor Kejaksaan Negeri Bukittinggi, (ANTARA SUMBAR/ Ira Febrianti)

Bukittinggi, (Antaranews Sumbar) - Kejaksaan Negeri (Kejari) Bukittinggi, Sumatera Barat, menelaah laporan dugaan penyimpangan penggunaan biaya tak terduga (BTT) dari APBD 2017 untuk penyediaan kios penampungan pascakebakaran Pasar Ateh.

"Memang kami terima laporan itu pada 5 Januari 2018 dari sebuah LSM. Namun kami masih telaah karena laporan itu sifatnya informasi jadi perlu dicari kebenarannya," kata Kepala Seksi Intelijen Kejari Bukittinggi, Alexander di Bukittinggi, Jumat (12/1).

Ia menjelaskan laporan yang diterima itu selambatnya ditindaklanjuti pada Senin (15/1) dengan membuat surat perintah untuk dilakukan pengumpulan data dan keterangan dari pihak pemkot yang terkait.

Biaya tak terduga, jelasnya bisa digunakan untuk keadaan mendesak yang salah satu kriterianya keadaan tersebut tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Dalam telaah sementara, penggunaan BTT tidak masalah untuk penanggulangan Pasar Ateh karena musibah kebakaran tidak dapat diprediksi dan langkah yang diambil selanjutnya adalah mendesak untuk aktivitas perekonomian daerah.

"Cuma kini pelaksanaannya di lapangan apakah sudah benar atau sudah sesuai anggarannya, ini yang perlu kami ketahui," katanya.

Bila pemkot melakukan penyimpangan yang berakibat pada kerugian negara, hal itu tidak dapat dibiarkan dan harus dipertanggungjawabkan.

"Sedangkan bila hanya penyimpangan saja disebut kelalaian administrasi, bisa diselesaikan secara administrasi pula. Tapi kalau sudah menyebabkan kerugian, tidak boleh dibiarkan,"jelasnya.

Ia menyebutkan jumlah BTT dalam APBD 2017 yaitu Rp1,8 miliar dan jumlah yang disebutkan dalam laporan yang diterima pihaknya sekitar Rp1 miliar.

"Dalam pengumpulan data dan informasi akan diverifikasi. Berapa yang digunakan, apa yang dibuat dan berapa biayanya, berapa yang dilaporkan telah digunakan. Ini semua nanti kita hitung," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar