Pawai "Arak Bako" di Solok Pecahkan Rekor Dunia MURI

id arak bako

Sebanyak 1566 peserta mengikuti pawai "arak bako" dalam rangka HUT Kota Solok yang ke 47 dan berhasil memecahkan rekor MURI Indonesia ( Antara Sumbar/Tri Asmaini)

Solok, (Antara Sumbar) - Pawai Budaya "Arak Bako" atau berjalan bersama untuk berkunjung ke rumah keluarga ayah yang diadakan Pemerintah Kota Solok, Sumatera Barat berhasil memecahkan rekor dunia Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Perwakilan MURI, Andre di Solok mengatakan pawai arak-arakan bako yang diadakan Kota Solok merupakan pemecahan kategori superlatif (sesuatu yang dapat dihitung atau diukur) dengan peserta terbanyak 1566 orang yang memecahkan rekor dunia MURI.

"Bukan hanya rekor Indonesia yang kita berikan tapi rekor dunia, karena pawai arak bako terbanyak ini baru ada di Kota Solok," ujarnya.

Ia mengatakan pawai arak bako ini sangat kental adat budayanya, pemecahan rekor ini juga menjadi upaya daerah untuk melestarikan adat budaya yang mulai jarang dilakukan.

"Kami sangat mengapresiasi pemecahan rekor MURI yang mengambil tema adat dan budaya karena akan semakin mengenalkan Indonesia sebagai negara yang kaya dengan budaya," ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kota Solok, Elvi Basri mengatakan pawai arak bako ini sebenarnya hanya akan diikuti sekitar 1300 Bundo kanduang ternyata diikuti 1566 orang dan masyarakat Kota Solok dari 13 kelurahan, yang dimeriahkan dengan pawai paguyuban, tari massal, dan prosesi baralek gadang.

"Pawai "arak bako" yang merupakan ide awal lembaga kerapatan adat alam Minagkabau (LKAAM) dan Bundo Kandung dimulai dari Simpang Muhammmadiyah hingga simpang Denpal Kota Solok, yang ribuan bundo kanduang berjalan kaki beriringan membawa dulang (sejenis tempat makanan adat)," ujarnya.

Selain membawa dulang, arak bako juga membawa berbagai hadiah, selimut besar yang dihias, nasi kunyit yang dihias berbagai bunga kertas, dan lainnya.

Ia mengatakan bahwa pawai "arak bako" ini selain untuk memeriahkan HUT Kota Solok, upaya untuk melestarikan adat dan budaya daerah setempat juga untuk mengeratkan dan mengakrabkan persatuan masyarakat kota tersebut.

"Karena kita tidak mempunyai begitu banyak wisata alam, atau potensi lainnya, maka kesenian, adat dan budaya yang berlimpah yang harus ditonjolkan untuk menjual Kota Solok pada dunia," ujarnya.

Walikota Solok, Zul Elfian mengatakan pawai "arak bako" yang mendapat rekor dunia MURI Indonesia merupakan hadiah bagi ulang tahun Kota Solok yang ke-47.

"Pawai "arak bako" ini mempunyai banyak makna bagi masyarakat, bako yang membawa beban berat di kepala tetap berjalan tegak merupakan pelajaran agar kita bekerja keras dengan ikhlas," ujarnya.

Ia mengatakan banyak khazanah budaya daerah lainnya yang bisa diangkat untuk promosi daerah, sehingga masyarakat harus bangga menjadi masyarakat Kota Solok dan Indonesia.

"Kita berharap apapun yang dilakukan untuk pembangunan masyarakat, semoga memajukan dan mensejahterakan rakyat," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar