Tarian "Salam diantara Maghrib ke Isya" Jadi Pembuka Festival Seni Qasidah di Padang

id Tarian

Tarian masal berjudul 'Salam diantara Maghrib ke Isya' karya koreografer Eri Mefri dalam pembukaan Festival Seni Qasidah Tingkat Nasional ke XXII tahun 2017 di Kota Padang Sumatera Barat, Minggu (19/11). Tarian tersebut melibatkan 300 penari dari berbagai sanggar dan sekolah yang ada di Kota Padang. ANTARA SUMBAR/Syahrul Rahmat/17.

Padang, (Antara Sumbar) - Tarian masal berjudul 'Salam diantara Maghrib ke Isya' meriahkan pembukaan Festival Seni Qasidah Tingkat Nasional Berskala Besar ke XXII tahun 2017 di Kota Padang Sumatera Barat.

Tarian tersebut merupakan karya dari koreografer internasional asal Sumbar, Eri Mefri dengan melibatkan ratusan penari dari beberapa sanggar dan sekolah yang ada di Kota Padang.

"Total penari dalam tarian masal ini sebanyak 300 orang dari enam sanggar serta sekolah di Kota Padang," kata koreografer, Eri Mefri di Padang, Minggu malam.

Ia menyebutkan tema yang diangkat pada tarian kolosal ini bercerita tentang kebiasaan sebagian manusia yang sering meninggalkan shalat Isya.

Biasanya hal tersebut berawal dari menunda-nunda untuk melaksanakannya karena waktu yang tersedia cukup panjang dari pada shalat Maghrib.

"Kita sebagai manusia terlalu sering melalaikan kewajiban yang telah diberikan Allah ditambah dengan segala keringanan untuk yang memiliki halangan," ujarnya.

Menurutnya kita sebagai manusia terlalu melalaikan kewajiban yang harus dilakukan, padahal waktu antara Maghrib ke Isya tidak terlalu lama, apa salahnya menunggu beberapa saat untuk kemudian melakukan shalat Isya.

Fenomena seperti inilah yang kemudian diwujudkan dalam sebuah garapan masal berupa tarian sebagai ajang untuk saling introspeksi diri.

Beberapa pihak yang ikut dalam tarian masal ini adalah Nan Jombang Dance Company, Impessa Dance Company, Sanggar Satampang Baniah, Sanggar Tuah Sakato, SMK 7 Padang dan SMK Asyiah Pariwisata Padang.

Salah seorang penonton, Asrilwan (54) mengatakan makna yang disampaikan dalam tarian tersebut cukup sampai pada setiap penonton.

"Jika diikuti dari awal hingga akhir maka ada makna-makna tertentu yang harus menjadi bahan introspeksi bagi kita," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar