Cabai Merah Kembali Jadi Penyumbang Inflasi di Sumbar

id Cabai Merah

Cabai merah keriting. (ANTARA FOTO)

Padang, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mengungkapkan cabai merah kembali menjadi pemicu inflasi di Kota Padang pada Oktober 2017 dengan kontribusi mencapai 0,20 persen.

"Pada Oktober 2017 terjadi inflasi di Padang sebesar 0,19 persen dipicu oleh kenaikan dua komoditas penyumbang terbesar yaitu cabai merah dan pasir," kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Jumat (3/11).

Menurut dia selain cabai merah dan pasir komoditas lain yang mengalami kenaikan harga pada Oktober antara lain kontrak rumah, bahan bakar rumah tangga, batu bata, dokter umum, sepat, air kemasan dan bayam.

Sementara sejumlah komoditas mengalami penurunan pada November 2017 antara lain daging ayam ras, ayam hidup, bawang merah, bawang putihteri, minyak goreng, apel, jengkol, petai dan buncis.

Sukardi menyampaikan sejak Januari hingga Oktober 2017 inflasi di Sumbar relatif stabil dan tidak terjadi gejolak harga yang begitu tinggi dan diperkirakan hingga Desember berada pada posisi sekitar dua persen.

Ia menyampaikan dari 23 kota di Sumatera sebanyak 20 kota mengalami inflasi dan tiga kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di kota Batam sebesar 0,72 persen dan yang terendah di Jambi 0,05 persen. Sementara deflasi tertinggi terjadi di kota Bengkulu sebesar 0,12 persen dan terendah di Tanjung Pinang sebesar 0,02 persen.

Sementara Padang menduduki peringkat ke-10 dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Sumatera dan urutan ke-15 secara nasional, katanya.

Sebelumnya Pemerintah provinsi Sumatera Barat telah mewajibkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan provinsi menanam cabai di pekarangan atau polybag sebagai salah satu strategi mengatasi kelangkaan dalam rangka pengendalian inflasi.

"Ada 23 ribu ASN di lingkungan pemprov Sumbar, semuanya diberikan bibit cabai untuk dibudidayakan di rumah masing-masing agar bisa mengatasi kelangkaan," kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Irwan mengatakan untuk bibit disiapkan oleh Dinas Pertanian dan akan dibagikan secara gratis sehingga ASN cukup merawat saja dan memanen ketika sudah berbuah.

"Bisa dibayangkan kalau satu ASN menanam 10 batang cabai, dan dilakukan 23 ribu ASN tentu hasilnya bisa memenuhi kebutuhan cabai," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar