Indonesia Kembali Kirim Bantuan Kemanusiaan untuk Rohingya

id Khofifah Indar Parawansa

Prajurit TNI Angkatan Udara memasukkan bantuan kemanusiaan Rohingya di Base Ops TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (13/9). Sebanyak 34 ton bantuan berupa beras, bahan siap saji, tenda, dan selimut dikirimkan lewat empat pesawat Hercules ke Bangladesh untuk pengungsi Rohingya. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/aww/17)

Surabaya, (Antara Sumbar) - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memberangkatkan kapal kemanusiaan berisi bantuan dari bangsa Indonesia untuk pengungsi etnis Rohingya di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Kamis.

Dalam kesempatan itu, Khofifah menyisipkan cerita pengalamannya bertemu dengan tiga orang ibu jamaah haji asal Myanmar saat berada di Tanah Suci, yaitu ketika akan menunaikan shalat magrib di Masjidil Haram, Mekah, Saudi Arabia, pada 1 September.

"Semula dari huruf tulisan di tas yang dikenakan oleh tiga ibu ini saya kira berasal dari Thailand. Waktu saya sapa, ternyata tiga ibu ini bilang berasal dari Myanmar," katanya.

Lalu Khofifah lebih fokus lagi bertanya apakah ketiganya muslim Rohingya? Ketiganya mengangguk. Percakapan selanjutnya, Khofifah mendengar sendiri kesedihan mereka atas kekerasan yang kembali terjadi pada kaumnya.

"Mereka bingung, setelah menunaikan ibadah haji mau pulang ke mana," ucapnya.

Saat itu juga Khofifah kemudian memerintahkan para stafnya di Kementerian Sosial untuk turut menggalang bantuan bagi pengungsi Rohingya.

"Sedangkan terhadap ketiga ibu ini, saya gunakan jaringan yang saya kenal di pemerintahan Saudi Arabia agar bersedia menampungnya sementara waktu karena situasi di tempat asalnya masih sedang bergejolak," katanya.

Sementara dari stafnya di Kementerian Sosial, lanjut dia, juga sempat kebingungan kalau mau memberi bantuan ke pengungsi Rohingya harus disalurkan melalui siapa.

"Karena posisi saya waktu itu memang masih sedang berada di Tanah Suci dan saya instruksikan tidak perlu menunggu saya pulang ke Tanah Air untuk menggalang bantuan terhadap pengungsi Rohingya," ujarnya.

Khofifah berterima kasih kepada organisasi nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT) di tanah air yang sejak enam tahun terakhir telah memfokuskan diri bekerja untuk kemanusiaan. "Sehingga ACT bisa menjadi penghubung bagi warga Indonesia yang ingin memberi bantuan kepada pengungsi Rohingya," katanya.

Dalam upaya menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya, ACT bekerja sama dengan PT Terminal Petikemas Surabaya yang mengelola salah satu pelabuhan internasional di Tanjung Perak Surabaya, serta perusahaan pelayaran PT Samudera Indonesia yang menyediakan kapal kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan yang telah terkumpul.

"Ini sinergi yang luar biasa untuk bantuan kemanusiaan," kata Khofifah, memuji.

Presiden ACT Ahyudin mengatakan bantuan yang dikirim melalui kapal kemanusiaan atas nama bangsa Indonesia adalah berupa beras sebanyak 2 ribu ton yang dikemas dalam 80 kontainer.

"Selain itu juga terkumpul uang sebanyak Rp50 miliar yang telah kami kirim terlebih dahulu," ujarnya.

Direktur Utama PT Samudera Indonesia Ken Narotama Hidayatullah mengatakan perjalanan kapal kemanusiaan yang memuat bantuan beras bagi pengungsi Rohingya dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju perbatasan Myanmar dan Bangladesh diperkirakan memakan waktu selama delapan hari.

"Kapal ini terlebih dahulu akan transit di Singapura selama tiga hari. Lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Pelabuhan Chittagong, Bangladesh. Setelah itu menempuh perjalanan darat sejauh 150 kilometer ke pengungsian di perbatasan Myanmar, yang seluruhnya diperkirakan menempuh waktu selama delapan hari," katanya. (*)

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar