BMKG Sarankan Pariaman Segera Bangun Shelter

id BMKG

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (Antara)

Pariaman, (Antara Sumbar) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Padang Panjang menyarankan agar Pemerintah Kota Pariaman Sumatera Barat segera membangun shelter untuk mencegah dan mengurangi risiko apabila terjadi bahaya bencana alam di daerah itu.

"Melihat dari geografis Kota Pariaman yang datar dan lumayan jauh dari perbukitan, maka shelter diperlukan untuk mengurangi risiko akibat bencana alam seperti gempa bumi berpotensi Tsunami," kata Kepala Stasiun BMKG Padang Panjang Rahmat Triyono saat dihubungi di Pariaman, Kamis.

Apalagi kata dia, jumlah penduduk Kota Pariaman yang bermukim di sekitar pesisir pantai juga dominan sehingga perlu kesiapan sedini mungkin sebelum bahaya bencana alam datang melanda. Pembangunan shelter tersebut kata dia, diperkirakan memakan biaya yang cukup besar sehingga dibutuhkan anggaran memadai.

"Pembangunan shelter di Kota Padang diperkirakan memakan biaya hingga Rp30 miliar, namun masyarakat dan pemerintah masih bisa mencari alternatif lain seperti pemanfaatan gedung Balaikota Pariaman," ujar dia.

Selain pemanfaatan gedung Balaikota setempat, pihaknya juga menganjurkan agar masyarakat bersama bergotong royong membangun shelter perbukitan dengan membuat anak tangga.

"Meskipun pembangunan shelter menjadi tanggung jawab pemerintah namun masyarakat diharapkan juga bisa bergotong royong memanfaatkan potensi yang ada," ujarnya.

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat Yaminu Rizal mengatakan saat ini pemerintah daerah baru bisa memfokuskan shelter yang bersifat horizontal.

"Pemerintah berupaya membangun shelter yang memadai namun karena terkendala anggaran terpaksa pengalihan ke daerah perbukitan khususnya ke Kecamatan Pariaman Timur," kata dia.

Pihaknya memperkirakan setidaknya pemerintah daerah membutuhkan lima unit shelter di daerah rawan bencana tersebut.

Satu unit shelter kata dia, diperkirakan mampu menampung lima ribu hingga 15 ribu jiwa penduduk apabila terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami.

"Sekitar 60 ribu jiwa penduduk Pariaman berdomisili di daerah yang rawan bencana, dan hampir 70 persen masyarakat beraktivitas di titik tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan terkait rencana pemerintah daerah membangun pasar modern diharapkan sekaligus dijadikan sebagai shelter. Menurutnya jika pemerintah hanya memfokuskan dana Rp30 miliar untuk pembangunan shelter dinilai kurang efektif.

"Sebaiknya pasar modern tersebut dibangun sekaligus dilengkapi shelternya," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar