ICMI Bantu Berikan Solusi Konflik Profesi Kedokteran

id Jimly Asshiddiqie

ICMI Bantu Berikan Solusi Konflik Profesi Kedokteran

Jimly Asshiddiqie. (Antara)

Jakarta, (Antara Sumbar) - Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) mengatakan berkomitmen membantu menyelesaikan dan memberikan solusi terhadap persoalan internal yang dihadapi profesi kedokteran terkait pendidikan spesialis.

Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan saat ini muncul masalah di antaranya mengenai ketentuan pendidikan layanan primer, akibatnya melahirkan dualisme pengelolaan pendidikan kedokteran, khususnya spesialis sehingga memunculkan konflik internal di lembaga kedokteran.

"Banyak di antara cendekiawan dari dunia kedokteran adalah pendiri ICMI. Maka kita merasa prihatin dan saya berjanji untuk membantu, paling tidak mencarikan solusinya," ujar Jimly.

Jimly menyarankan selain menggunakan penyelesaian masalah dengan menggunakan jalur hukum, diperlukan pula sikap saling terbuka dan bersedia mengalah, bahkan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Ada rasa ketakutan seolah-olah akan dibentuk organisasi profesi yang berbeda-beda sebagai saingan IDI dan ini tidak sehat. Kalau konflik tidak segera diselesaikan mmmaka akan mempengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat dan juga menimbulkan masalah dualisme organisasi.

"Dengan kata lain, ada konflik antara anggota IDI di pemerintahan dan di kepengurusan," ujar dia.

Diakusi bersama jajaran PB IDI untuk dapat memahami upaya penyelesaian masalah, menurut dia, adalah baik. Karena jika terus dibiarkan, maka ada kecenderungan melemahkan kedudukan dan fungsi IDI sebagai organisasi profesi tertua di Indonesia.

Jimly menuturkan kini pengurus IDI sedang menempuh upaya hukum dengan mengajukan uji materiil sambil berkonsultasi hal-hal apa yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan profesi kedokteran secara menyeluruh.

"Dokter praktik ingin menentukan kualitas relevansi pendidikan sehingga IDI yang menentukan. Tapi, lembaga pendidikan sebagai produsen tenaga kedokteran juga ingin punya peran lebih besar dan pemerintah dalam hal ini berpihak kepada lembaga pendidkan," kata Jimly. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar