Songket Silungkang harus Jadi Unggulan Sawahlunto

id songket

Seorang pengrajin, Anita Dona Asri (31), menunjukan kain songket karyanya, saat pameran Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2017, di Sawahlunto, Sumatera Barat, Jumat (25/8). Pameran tersebut menampilkan songket karya pengrajin lokal dan karya dari Riau, Palembang, Kalimantan, serta sejumlah daerah lainnya di nusantara. (ANTARA SUMBAR/Iggoy el Fitra/17)

Sawahlunto, (Antara Sumbar) - Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menyebutkan sebelum menjadi produk unggulan nasional, Songket Silungkang harus menjadi unggulan Sawahlunto.

"Songket Silungkang harus menjadi produk unggulan Sawahlunto sebelum menjadi unggulan nasional, dengan kekuatan dan tradisi yang sudah ada di sini lalu dikembangkan," ujarnya saat menghadiri puncak acara Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2017 di Sawahlunto, Minggu.

Ia menilai Songket Silungkang masih perlu penyempurnaan, misalnya dari segi disain. Untuk itu, pihaknya tidak ingin lagi hanya menunggu datang dari bawah atau datang dari daerah.

"Songket harus sama-sama kita kembangkan dengan pemahaman selera internasional," ujarnya.

Menurutnya, perlu dilakukan inovasi agar penerapan kain-kain songket bukan hanya sekedar pada pakaian tapi juga barang-barang lainnya, misalnya asesoris atau barang-barang keperluan rumah tangga.

"Ini akan kita perluas," katanya.

Setelah mampu membuat inovasi dan menjaga kualitas, pasar pasti akan terbuka dan yang dibutuhkan kemudian adalah kemampuan Sawahlunto untuk memproduksi lebih.

Ia mengungkapan bahwa kualitas songket Indonesia sudah bagus sehingga tidak ada yang mampu mengalahkan lagi tapi perlu dilakukan penyempurnaan.

"Seperti bagian dalamnya yang masih ditemukan kurang bagus. Jadi hal-hal detail itu harus diperhatikan," sebutnya.

Sementara terkait bahan baku yang masih impor dari China dan India, sebutnya pihaknya segera akan melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah serta perancang busana guna membahas masalah ini.

"Hasil dari pertemuan itu akan kami sampaikan ke pihak berwenang. Karena ini masalah lintas kementerian, bukan Bekraf sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan agar produksi Indonesia mampu berkembang pesat, penduduk Indonesia harus bangga menggunakan produk dalam negeri meskipun belum sempurna.

"Jangan menunggu sempurna baru menggunakan. Pasar di Indonesia 260 juta, jangan pasar sebanyak itu cuma dimanfaatkan orang luar negeri," ujarnya.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyebutkan SISCa pada tahun ketiga ini telah mengalami perkembangan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Ada perubahan, sebelumnya biasanya pawai. Kini setiap peserta telah mampu menunjukkan hasil kreativitas kreasi para perancang yang luar biasa," ujarnya.

SISCa, imbuhnya telah menjadi momen yang bagus dalam memperkenal songket silungkang ke nasional amupun internasional.

Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf mengatakan tujuan digelarnya SISCa agar songket Silungkang mampu berkiprah di tingkat Internasional.

"Saya optimistis dengan komitmen Badan Ekonomi Kreatif dan dibantu oleh Kementerian Perdagangan maka songket Sawahlunto ini mampu go internasional," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar