Pemkab Mentawai Tetap Tampilkan Racikan Panah Beracun

id Panah mentawai

Panah Mentawai. (cc)

Mentawai, (Antara Sumbar) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) akan tetap menampilkan atraksi meracik panah beracun dalam ajang Festival Panah Tradisional Mentawai yang digelar 26 sampai 28 Juli 2017 di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Pulau Siberut, daerah itu.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Mentawai yang juga Ketua Pelaksana kegiatan, Aban Barnabas Sikaraja di Tuapejat, Rabu, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan pada ajang tersebut tidak ada perubahan dan sesuai dengan rencana.

"Kami sudah melakukan pertemuan dengan masyarakat, dan semuanya tidak mempermasalahkan jika racikan panah beracun dari Mentawai ditampilkan pada ajang itu," tambahnya.

Ia menjelaskan sebelumnya memang ada beberapa pihak yang mempersoalkan tentang atraksi membuat racikan panah beracun tersebut karena dinilai membuka rahasia racikan dan mengurangi nilai sakral racun tersebut.

Namun, menurutnya masyarakat sepakat hal itu tetap dipublikasikan dengan batasan-batasannya dan tetap menjaga kerahasian terhadap bahan-bahan tertentu dari ramuan racun tersebut.

"Tentunya atraksi tersebut tidak dirinci secara vulgar, tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal serta hal-hal tertentu yang dijaga kerahasiaannya supaya tidak digunakan dalam hal yang negatif," lanjutnya.

Ia mengemukakan panah beracun yang digunakan masyarakat Mentawai dalam berburu merupakan salah satu keunggulan dan budaya lokal yang harus tetap terjaga, atraksi itu mempunyai nilai untuk menjaga dan melestarikan sekaligus menjadi keunggulan serta keunikan dari masyarakat Mentawai dalam berburu hewan.

"Konsep yang kami tawarkan dari wisata budaya di Mentawai ini adalah salah satunya, tidak cukup dengan hanya cerita, tentu ada atraksi nantinya untuk menunjukan racikan panah beracun tersebut," katanya.

Lebih lanjut, ujarnya panah beracun yang digunakan masyarakat Mentawai, bertujuan untuk mempercepat kematian hewan buruannya, proses pembuatan racun tersebut sebenarnya juga membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan kadar racun yang kuat.

"Kami ingin nilai-nilai budaya ini tetap terjaga dan tidak terpengaruh modernisasi alat," sebutnya.

Tujuan kegiatan tersebut, tambahnya adalah salah satu bagian promosi budaya Mentawai, selain keindahan pesona alam "Bumi Sikerei".

"Ada juga peluang dari ajang ini untuk mencari atlet yang akan diturunkan pada pertandingan panah tradisional," terangnya.

Ia juga meyakini, dari kegiatan tersebut akan meningkatkan perekonimian masyrakat dari kunjungan wisatawan dan pencinta wisata budaya dari luar Mentawai. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar