Karya Seni Cukil Metal Dipamerkan di Jakarta

id Karya Seni Cukil Metal Dipamerkan di Jakarta

Jakarta (Antara) - Pameran choukin atau seni cukil metal tiga dimensi berasal dari Jepang dilaksanakan di Jakarta dalam rangka memperkenalkan seni tradisional Jepang itu kepada masyarakat Indonesia.

"Membutuhkan empat bulan untuk mempersiapkan ini semua," kata seniman cukil metal berasal dari Jepang, Kitamura Yasutaka, yang ditemui Antara saat pembukaan pameran itu di Jakarta, Selasa (5/2) malam.

Kitamura juga mengatakan hal yang menarik dari pameran tersebut, adalah karya yang ditampilkan perpaduan seni tradisional Jepang dengan kaligrafi Arab yang terinspirasi saat dia di Indonesia sejak tiga tahun lalu.

"Saya sudah tahu kaligrafi sejak di Jepang, tapi saya melihat kaligrafi sangat dekat dengan masyarakat Indonesia," kata Kitamura dalam Bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh petugas Japan Foundation.

Kitamura tinggal di Indonesia untuk mengajar Bahasa Jepang di salah satu pesantren di Indonesia. Dari tinggal di pesantren tersebut Kitamura mulai mempelajari kaligrafi dari para ustadz dan pengajar di pesantren tersebut.

Seniman yang lahir di Tokyo pada 1978 itu juga menyebutkan bahwa pameran kali ini untuk mengapresiasi ilmu yang dia dapat dari pesantren, tempat dia mengajar.

Kitamura juga berencana memperkenalkan seni perpaduan choukin dengan kaligrafi yang dia sebut sebagai kaligrafiti itu ke seluruh dunia.

Dalam pembuatan kaligrafiti, Kitamura menyebutkan banyak hal yang menjadi kendala dalam pengerjaan, salah satunya adalah kurangnya pemahaman Kitamura dalam kaligrafi.

Namun, hal tersebut bisa diatasi dengan bantuan para ustadz dari pesantren tempat dia mengajar.

Choukin adalah seni cukil metal berasal dari Jepang yang sudah dikenal sejak lama. Seni itu berbeda dengan seni ukir lainnya karena bahan yang dipakai dalam pengerjaan adalah benda-benda keras seperti baja, alumunium, besi, maupun tulang.

Peralatan yang dipakai dalam choukin juga khusus. Untuk mencungkil metal diperlukan alat seperti pahat yang disebut hage. Walaupun sepintas terlihat seperti pahat, tetapi alat itu berbeda dengan pahat biasa.

"Hage sangat berbeda dengan pahat," kata Kitamura.

Kitamura mengaku menyiapkan 250 hage untuk karyanya. Hage dibuat sendiri karena tidak ada di Indonesia yang menjualnya. Setiap seniman memiliki karakter yang berbeda dengan seniman lainnya, sehingga hage yang digunakan juga harus sesuai dengan keinginan sang seniman.

Pameran itu diadakan atas kerja sama Kitamura dengan Japan Foundation.

Seorang petugas Japan Foundation, Diana, mengatakan bahwa pameran kesenian Jepang rutin dilakukan setiap bulan.

"Kali ini Kitamura yang juga ingin memperkenalkan choukin, jadi kita kerja sama. Dia yang membuat karya, kita yang menyediakan tempat," katanya.

Pameran itu mulai 5-22 Februari 2013 di Hall Japan Foundation Gedung Summitmas I Lantai 2 Jalan Jenderal Sudirman Kav. 61-62 Jakarta Selatan.

Pameran terbuka untuk umum dengan memamerkan lima karya Kitamura yang bernuansa Islam dan dibuat di Indonesia. (*/sun)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar