Gubernur Lampung Dorong Sumatera Pemegang Tongkat Estafet Pembangunan

id Gubernur Lampung

Bandarlampung, (Antara Sumbar) - Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mendorong gubernur se-Sumatra untuk menguatkan sinergitas dalam rangka menyiapkan kawasan itu sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan nasional selanjutnya.

"Sumatera saat ini kian berkembang, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya diyakini mampu menjadi pemangku utama dalam pembangunan ekonomi nasional selanjutnya," kata dia, pada pembukan Rakorgub se-Sumatera di Bandarlampung, Selasa malam.

Ia menyebutkan, Pulau Jawa dinilai sudah memasuki babak jenuh dalam beberapa tahun yang akan datang.

Menurutnya, koordinasi dan sinergitas sangat dibutuhkan untuk mencapai kemajuan di Sumatera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI).

Ia menjelaskan kawasan di Sumatera secara regional harus menguatkan sinergitas di berbagai sisi dan program pembangunan harus terarah dengan keunggulan daerah masing-masing.

Ridho mengharapkan program pembangunan masing-masing daerah di kawasan Sumatera tidak harus sama dan berebut dana dari pemerintah pusat.

"Jangan sampai membangun masjid disamping masjid dan berebutan jamaah," kata dia mengistilahkan.

Koordinasi dan sinergitas, lanjutnya, sangat dibutuhkan untuk mencapai cita-cita kemajuan Sumatera dalam bingkai NKRI. Sumatera sudah harus dipersiapkan untuk mengambil alih tongkat estafet pembangunan nasional selanjutanya.

Gunbernur Lampung itu mengatakan bahwa dengan melangkah bersama, secara vertikal akan mendapatkan dukungan pemerintah pusat dan secara horizontal akan memperkuat kesatuan pemerintah Sumatra dalam menyiapkan kawasan itu agar lebih maju seperti yang dicita-citakan.

Ia menjelaskan, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) yang pembangunannya terus dipercepat, harus bisa menjadi momentum dan batu lompatan untuk daerah-daerah di Sumatera untuk lebih maju.

Selain itu 'backbone' infrastruktur JTTS tersebut, harus bisa menjadi penyatu pembangunan Sumatera ke depan. Oleh karna itu, dampak JTTS terhadap daerah-daerah di Sumatera harus dibahas rinci dalam Rakor Gubernur se-Sumatera.

Ia mengingatkan mengenai situasi demografi Indonesia 5 tahun ke depan, yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2020, dimana angkatan kerja atau usia produktif akan lebih banyak dari usia nonproduktif.

Artinya, momentum bagus untuk lompatan bila Sumatera dan Indonesia secara umum bisa menyiapkan lapangan kerja dan SDM berkualitas.

"Dalam waktu yang tidak lama lagi, Indonesia akan menikmati bonus demografi. Usia produktif kita akan lebih banyak, ini bisa menjadi bonus bila kita bisa menyiapkan SDM yang baik kedepan serta lapangan kerja yang layak," tambahnya.

Ketua MPR-RI Zulkifli Hasan mengatakan agar pemerintah daerah yang ada di Sumatera bisa mengambil bagian dalam upaya menanamkan ideologi dan wawasan kebangsaan.

"Setelah reformasi selama 18 tahun pemerintah daerah dan pusat sedikit lengah dan saling lempar tanggung jawab dalam upaya menanamkan wawasan kebangsaan kepada masyarakat terutama generasi muda," katanya.

Ia menjelaskan hasil riset Lemhanas, lima puluh sampai seratus tahun ke depan dalam era yang lebih terbuka generasi kita tidak memiliki wawasan kebangsaan dan nasionalisme yang baik.

Zulkifli dalam kesempatan itu juga memuji Pemerintahan Lampung yang bergiat aktif terus bersinergitas dengan daerah lain dan Pemerintah pusat, sehingga bisa menjadi contoh yang baik untuk kepala daerah yang lain.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Kementrian Dalam Negeri Yuswandi Temenggung juga mengapresiasi inisiasi yang dilakukan Gubernur Ridho Ficardo dalam mengajak gubernur se-Sumatera untuk menyongsong estafet pembangunan Indonesia ke depan.

"Kami mengapresiasi upaya-upaya yang digagas gubernur menjadikan Sumatera sebagai salah satu kontributor tertinggi pembangunan," katanya pula.

Sekjen Kemendagri itu juga mengajak agar gubernur di Sumatera bisa memitigasi secara serius arah pembangunan dan ekonomi Sumatera ke depan. Salah satunya dampak JTTS yang menurut perhitungan bisa menaikan pertumbuhan hingga 0,6 persen.(*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar