
Biaya Mahal, Petani Enggan Besarkan Anak Sapi Perah

Padang Panjang, (Antara) - Enggannya petani di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, membesarkan anak sapi perah merupakan kendala dalam mengembangkan populasi hewan penghasil susu tersebut selama ini, kata pejabat pemerintah setempat. "Petani di Padang Panjang relatif banyak yang tidak mau mengembangkan sapi perah selama ini," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Panjang, Candra di Padang Panjang, Rabu. Dia mengatakan, kebanyakan para petani sapi perah lebih suka memelihara sapi yang sudah besar dan siap untuk berproduksi, dari pada anaknya. "Bagaimana kami akan mengembangkan populasi sapi itu, kalau petaninya saja tidak mau membesarkan anaknya," katanya. Dia mengatakan, petani tersebut enggan untuk memelihara anak sapi perah karena biaya pembesarannya mencapai belasan juta rupiah. "Untuk membesarkan anak sapi itu petani harus mengeluarkan biaya sampai Rp11 juta dari lahir hingga berumur 18 bulan," katanya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Pemkot Padang Panjang membangun pusat pengembangan sapi perah di Kelurahan Silaing Bawah, untuk membesarkan dan memperbanyak jumlah sapi perah di daerah itu. "Pembangunan lokasi pengembangan sapi ini guna adanya keturunan dan sekaligus memperbanyak jumlah sapi perah di Padang Panjang ini," katanya. Pusat pengembangan sapi perah itu nantinya akan dilengkapi dengan sejumlah sarana pendukung yang diperlukan oleh sapi tersebut, jelasnya. "Pembangunan lokasi sapi ini mempergunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat sebesar Rp900 juta," katanya. Dia mengatakan, pembangunan lokasi pengembangan sapi tersebut akan diresmikan awal Desember 2014 ini. "Karena target selesainya akhir November ini, saat ini sudah selesai sekitar 90 persen," katanya. Pusat pengembangan sapi itu, katanya, akan ditempati oleh sapi yang berumur tiga bulan keatas, yang berasal dari anak sapi perah petani dengan jumlah maksimal 75 ekor. (*/ben/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
