Dualisme Kepengurusan Parpol Penghambat Lahirnya Pemimpin Berkualitas

id Aidinil Zetra

Aidinil Zetra. (ist)

Padang, (Antara Sumbar) - Pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Aidinil Zetra, PhD mengemukakan terjadinya dualisme kepengurusan partai politik jelang pilkada dapat menjadi penghambat lahirnya kepala daerah yang berkualitas.

"Karena jika terjadi dualisme kepemimpinan dalam suatu partai politik, sistem penyaringan kader partai politik tersebut tidak dilakukan secara maksimal. Maka calon akhir yang diusung hanya sekadarnya saja," katanya di Padang, Kamis.

Menurutnya, partai politik sebagai salah satu sarana dalam penentuan kader yang akan maju dalam pilkada mendatang seharusnya melakukan keseriusan dalam perekrutan kader daerahnya.

Ia menjelaskan penyebab terjadinya dualisme partai politik itu yakni adanya pengurus yang menjalankan fungsi partai dengan dua sisi berbeda. Pertama partai politik dianggap sebagai wadah mendapatkan dana sehingga kader yang diusung tidak efektif.

"Fungsi partai politik sebagai wadah mendapatkan dana sangat tidak dibenarkan karena akan berpotensi munculnya praktik politik uang," katanya.

Ia melanjutkan kedua yang dijalankan yakni, partai politik sebagai komunikasi politik dimana partai politik menjadi sarana organisasi yang dapat menjadi sarana komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah.

"Fungsi seperti itulah yang diharapkan ada pada setiap partai politik di Indonesia, karena Partai politik merupakan salah satu pilar dari demokrasi yang memainkan peranan penting dalam proses penyelenggaraan Negara," katanya.

Ia mengharapkan setiap partai politik dapat memakai fungsinya dengan benar sesuai aturan yang ada, sehingga dapat mengusung kader yang berkualitas.

"Karena kader yang berkualitas akan menentukan proses pilkada yang juga berkualitas, untuk pemilik suara yakni masyarakat juga tidak ragu menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon untuk menjadi kelapa daerahnya mendatang," ujarnya. (*)


Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar