Rabu, 18 Oktober 2017 - 28 Muharram 1439 H

Membangun Karakter Anak Bersama Buku

Padang, (Antara Sumbar) - Dalam keseharian, kita mengenal sebutan karakter sebagai suatu tindakan yang sudah menjadi kebiasaan dilakukan oleh seseorang.

Bentuknya dapat berupa karakter baik seperti rajin, berperilaku santun atau pantang menyerah dan kebalikannya berupa karakter buruk seperti malas, pembangkang, suka berbohong atau gampang menyerah.

Menurut Ketua Lembaga Pemerhati dan Perlindungan Anak (LPPA) Bukittinggi, dr Rahmi Yetti, karakter berarti tabiat atau kebiasaan yang dilakukan tanpa ada lagi pemikiran karena sudah tertanam dalam pikiran.

“Artinya apa yang dilakukan seseorang dalam kesehariannya dilakukan secara otomatis. Tidak ada lagi berpikir ‘saya mau jadi pendiam’ atau ‘saya mau jadi periang’,” katanya.

Dalam upaya membentuk karakter baik seorang anak, masa yang dianggap terbaik adalah sebelum anak menginjak usia tujuh tahun. “Ini adalah waktu emas menanamkan dan membentuk karakter baik pada anak,” ujarnya.

Umumnya di saat ini, para orang tua menyekolahkan anak untuk dididik agar berkarakter baik namun sayangnya niat itu akan sulit tercapai karena jauh sebelum memasuki usia sekolah, pendidikan karakter anak telah seharusnya dimulai di dalam rumah oleh kedua orangtua.

Untuk membangun karakter, orangtua sudah harus mengetahui kebutuhan emosi anak seperti hal sederhana bayi menangis karena popok basah, maka orangtua harus bersegera menggantinya.

Bagi anak, penting diberikan rasa nyaman, kasih sayang, dukungan terhadap aktivitasnya disertai pemahaman agar bertanggungjawab dan menghormati orang lain.

“Membangun karakter berarti kebutuhan emosi anak terpenuhi, butuh perhatian orangtua agar merasa aman dan nyaman,” tambahnya.

Ia menerangkan karakter seseorang dipengaruhi oleh faktor genetik dan kondisi lingkungan. Karena faktor genetik sudah tidak dapat diubah, maka pengaruh lingkungan harus dikontrol oleh orangtua.

Sebagai cara membentuk karakter unggul, orangtua memberikan perhatian melalui pendidikan dan sudah dapat dilakukan sejak anak berusia 20 minggu di dalam kandungan.

Saat usia itu, janin sudah mampu mendengar suara dari luar sehingga orangtua sudah dapat memulai pendidikan bagi anak dengan cara berkomunikasi.

“Salah satu cara mendidik yang sederhana yaitu dengan membacakan buku. Bila sejak dalam kandungan sudah mulai didengarkan bacaan dan dilakukan secara berulang akan membantu perkembangan otak janin,” ujarnya.

Menurutnya, buku adalah alat bermutu dalam membantu memulai pendidikan karakter bagi anak karena beragam informasi tersimpan di sana.

Anak berusia di bawah tujuh tahun sangat sensitif dan responsif terhadap segala bentuk rangsangan yang dia terima sehingga menjadi kesempatan bagi orangtua menanamkan nilai-nilai atau karakter baik yang diharapkan dimiliki anak.

“Bagi orangtua, budayakanlah membacakan dongeng atau buku sebelum tidur. Selain sebagai awal pendidikan karakter juga akan mendorong anak gemar membaca di kemudian hari,” tambahnya.

Saat membacakan buku bagi anak, orangtua dapat mengenalkan tokoh-tokoh teladan seperti nabi-nabi dalam agama Islam dan pahlawan nasional yang semuanya berkarakter unggul yang patut dicontoh anak.

Dengan membacakan kisah dari tokoh-tokoh tersebut, dapat membantu membentuk karakter anak seperti tokoh dalam bacaan dan masukkan informasi-informasi positif.

Namun tetap perlu diperhatikan kesesuaian buku yang dibacakan dengan usia anak. “Bagi anak di bawah empat tahun dianjurkan membacakan dongeng fantasi dan usia empat sampai delapan tahun bacakanlah cerita-cerita yang lebih rasional,” lanjutnya.

Dapat dikatakan budaya membaca akan turut membentuk karakter seseorang karena makin banyak ilmu dan informasi yang diserap dapat memudahkan berkomunikasi dan bergaul.

Anak yang telah terbiasa membaca dalam pergaulannya memiliki lebih banyak bahan pembicaraan dan lebih banyak informasi yang dapat diberikan sehingga menambah rasa percaya diri saat bergaul.

“Kondisi di era global sekarang, karena berbagai kesibukan orangtua sudah jarang kesempatan mendongeng bagi anak sehingga diharapkan kejelian mengatur waktu untuk pekerjaan dan memberi dukungan dalam pendidikan karakter anak,” katanya

Sementara bagi anak muda, Rahmi Yetti menilai perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan yang dapat mendorong memudahkan anak memperoleh informasi namun dapat pula menurunkan minat belajar karena “game” yang tersedia.

Perlu Stimulan

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bukittinggi, Novri mengatakan dirinya meyakini bahwa minat baca generasi muda di daerah itu tidaklah rendah.

Hanya saja menurutnya, diperlukan suatu stimulan secara berkelanjutan agar minat baca terjaga dan dapat pula menumbuhkan minat tersebut bagi yang belum menjadikan membaca sebagai aktivitas yang disukai.

“Stimulan ini sebagai pengingat bahwa membaca hendaknya dijadikan sebagai sebuah budaya, bahwa membaca dapat melahirkan masyarakat intelektual,” katanya.

Sebagai bentuk dorongan, pemerintah setempat setiap tahun menggelar kegiatan memperingati Hari Buku guna mendorong minat baca bagi generasi muda mulai dari anak usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang SMA.

Beragam perlombaan dilakukan seperti lomba bercerita, lomba menulis cerita rakyat, lomba menulis puisi, bedah buku dan pameran buku.

Selain itu, pameran arsip dan dokumen bernilai sejarah juga dilakukan untuk memancing keingintahuan anak terhadap kondisi daerah masa tempo dulu agar kemudian mau mencari tahu lebih banyak melalui buku atau media informasi lain.

“Membangun minat baca anak sejak dini adalah tugas bersama orang tua dan pemerintah agar aktivitas itu menjadi kebutuhan sejak kecil bagi anak,” katanya.





Editor : Ikhwan Wahyudi

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Atman Ahdiat
Semangat Pemerintah Daerah Sumatera Barat untuk memacu pertumbuhan di sektor pariwisata terpancar pada Forum Investasi Regional ...
Baca Juga