Rabu, 20 September 2017 - 29 Zulhijjah 1438 H

BI: Kredit Perbankan Sumbar Tumbuh 5,6 Persen

Bank Indonesia. ( FOTO ANTARA)
Padang, (Antara Sumbar) - Bank Indonesia perwakilan Sumatera Barat mencatat pertumbuhan kredit bank umum di provinsi itu pada triwulan I 2017 mencapai 5,6 persen.

"Angka tersebut relatif stabil dan rendah terutama disebabkan oleh kredit konsumsi yang mengalami perlambatan dan kredit modal kerja mengalami kontraksi," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Puji Atmoko dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumbar triwulan I 2017 di Padang, Senin.

Namun menurut dia, kredit investasi sedikit meningkat meski tidak setinggi pertumbuhan dua tahun terakhir yang mampu mencapai rata-rata 23 persen.

"Perlambatan kredit konsumsi disebabkan lemahnya kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kontraksi pada kredit kendaraan bermotor (KKB) di awal tahun 2017," ujar dia.

Sementara pada triwulan II pertumbuhan kredit diperkirakan membaik didorong peningkatan aktivitas ekonomi yang meningkat saat Ramadhan dan Idul Fitri.

"Hal ini terindikasi pada peningkatan pertumbuhan kredit di bulan April 2017 yang mencapai 6,5 persen," kata dia.

Sementara porsi kredit produktif bank umum di Sumatera Barat hanya sebesar 55 persen dari total kredit, dinilai masih relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata porsi kredit produktif di regional Sumatera yang mencapai porsi di atas 70 persen.

"Hal ini mencerminkan bahwa peran kredit dalam mendukung investasi dan percepatan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat masih relatif terbatas," katanya.

Pada sisi lain ia melihat Ketergantungan pendanaan perbankan dari luar Sumatera Barat masih tinggi.

Fungsi intermediasi tercermin dari nilai rasio Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara jumlah kredit yang disalurkan bank terhadap jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) bank, pada triwulan I 2017 sedikit menurun, dari 145,2 persen pada akhir tahun 2016 menjadi 140,7 persen, katanya.

Ia mengatakan menurunnya LDR tersebut diperkirakan masih berlanjut sebagaimana terindikasi dari nilai LDR pada April 2017 yang menurun menjadi 139,4 persen.

"Meskipun menurun, nilai rasio LDR di atas 100 persen menunjukkan terdapat penggunaan dana dari luar provinsi sebagai salah satu sumber penyaluran kredit untuk membiayai proyek yang berlokasi di Sumatera Barat," ujarnya.

Selain itu, nilai rasio tersebut memberikan informasi bahwa perbankan diharapkan tetap terus meningkatkan penghimpunan DPK di Sumatera Barat dengan berbagai program yang menarik, karena pada saat ini DPK yang berhasil dihimpun masih relatif kecil dibandingkan penyaluran kreditnya oleh perbankan, lanjutnya.

Sementara kualitas kredit bank umum di Sumbar pada awal tahun menunjukkan penurunan yang pada triwulan I 2017 rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan (NPL) perbankan meningkat menjadi 3,3 persen dari sebelumnya sebesar 3,2 persen.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan di Sumbar melakukan restrukturisasi kredit terkait dengan meningkatnya angka kredit bermasalah sektor UMKM.

"Caranya mengubah jangka waktu kredit dari semula tiga tahun menjadi lima tahun atau menurunkan angsuran pokok," kata Kepala Kantor OJK Sumbar, Indra Yuheri.

Ia melihat tingginya rasio kredit bermasalah sektor UMKM di Sumbar disebabkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat sehingga aliran uang sektor perdagangan mendapat imbas.

Menurut dia salah satu solusi agar rasio kredit bermasalah dapat turun adalah meningkatkan daya beli masyarakat namun persoalannya penurunan daya beli terjadi pada semua sektor. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Joko Nugroho
         Sawahlunto, kota kecil yang berjarak sekitar 80 kilometer dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat ...
Baca Juga