Rabu, 24 Mei 2017 - 28 Sya'ban 1438 H

Ini dia Pendapat Akademisi Unand Soal Jasa Lingkungan Hutan

Hutan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Padang, (Antara Sumbar) - Akademisi sekaligus guru besar bidang pertanian dan kehutanan dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Prof Yonariza mengatakan sosialisasi terkait jasa lingkungan hutan perlu diperkuat oleh pemerintah daerah.

"Masyarakat harus tahu pentingnya hutan bagi keseimbangan lingkungan, bukan hanya manfaat dari proyek pembangunan semata," ujarnya menanggapi meningkatkan konversi hutan untuk perkebunan atau pemukiman, di Padang, Rabu.

Seharusnya, tambahnya pemerintah perlu menyeleksi setiap proyek yang masuk terlebih terkait konversi atau pengubahan lahan hutan.

Kemudian bila ada rencana pembangunan dari masyarakat, pemerintah perlu menjelaskan secara detail keuntungan dan kerugian dari konversi tersebut.

Dia mencontohkan saat masyarakat akan menjadikan hutan sebagai lahan sawah, pemerintah perlu memberikan penyuluhan kepada warga lokal tersebut.

Sebab dalam penelitiannya, hanya 0,006 persen keuntungan yang didapat setelah jadi sawah dibanding mempertahankan keberadaan hutan.

Artinya bila dihitung dengan skala valuasi ekonomi dengan mengukur manfaat, estetika dan keberadaan sumber daya hayati jauh lebih baik dibanding menanam padi atau palawija di sawah.

"Hutan mampu menyerap karbon dan udara lainnya, namun saat dibakar jadi penyumbang karbon hal ini juga perlu menjadi penyuluhan," kata dia.

Dia menambahkan pemberian informasi jasa lingkungan hutan ini penting untuk masyarakat mengingat laju kehilangan hutan khususnya di Sumatera terus terjadi.

Sebagai gambaran, sebutnya selama 16 tahun terakhir terjadi penyusutan luas hutan 20 hingga 30 persen hutan di Sumatera dari tahun 2000 seluas 15,3 juta hektare.

Dalam waktu sepuluh tahun akan lebih besar lagi laju kehilangan hutan tersebut mengingat proyek pembangunan, perkebunan terus meningkat.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Hendri Octavia meminta masyarakat khususnya yang ada di dekat hutan mulai memikirkan lingkungan sekitarnya.

Salah satunya, tambahnya mementingkan keberadaan keanekaragaman hayatinya dan manfaat hutan yang lebih besar.

Sebagai contoh ujarnya banjir di Lima Puluh Kota lalu sebagai pelajaran ke depan dalam menjaga hutannya. (*)




Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
    Pagi itu seharusnya Suril Dirman (59) bahagia karena bawang merah yang telah dipeliharanya dengan teliti selama dua ...
Baca Juga