Rabu, 24 Mei 2017 - 28 Sya'ban 1438 H

Mengenal Kuliner Sunda Di Ranah Minang

Rumah Makan Khas Sunda "Saung Kuring" di Padang (M R Denya Utama/Antara Sumbar)
Bagi masyarakat Sunda menikmati masakan Minang sudah tidak asing mengingat banyaknya rumah makan Padang di Jawa Barat atau Banten, namun bagi warga Minang banyak yang masih asing terhadap masakan Sunda, inilah tujuan rumah makan Sunda "Saung Kuring" didirikan di Padang.

Adalah Aji Rukmanayang menggagas rumah makan dengan sajian sepenuhnya tradisional Sunda, mulai dari dekorasi, bentuk hingga jenis makanan.

Bersama rekan asal Sunda lainnya Aji Rukmana mendirikan "Saung Kuring" di kota Padang dengan bergaya lesehan atau makan duduk di bawah pada 17 April 2017 .

Pria kelahiran Garut 48 tahun silam tersebut menyebutkan satu per satu masakan yang disajikan di rumah makannya dan memastikan masakan tersebut tidak akan ditemukan di rumah makan lain di Sumbar.

Misalnya nasi kuning, merupakan hidangan nasi yang dibuat menggunakan santan dan kunyit merupakan salah satu makanan wajib orang Sunda.

Sejauh ini ,kata dia, di Sumbar belum ada yang menjual secara khusus panganan untuk sarapan tersebut, jika ada mungkin dalam bentuk tumpeng pada saat acara hajatan atau syukuran.

"Hanya dengan Rp10 ribu per porsinya, setiap pagi nasi kuning bisa didapat di "Saung Kuring"," kata Aji yang juga ketua Paguyuban Warga Sunda Sumatera Barat tersebut.

Hidangan khas lain yang menjadi menunya yakni empal gentong yaitu masakan khas Cirebon berupa sup daging sapi yang dimasak menggunakan gentong atau wadah besar terbuat dari tanah liat.

Bahan masakannya berupa daging sapi, babat, jerohan sapi lainnya yang dibuat seperti gulai dan dimasak menggunakan bahan bakar kayu.

Untuk satu porsi empal gentong cukup dengan Rp15 ribu dan masakan ini disediakan setiap waktu dari pagi hingga malam.

Dari jenis bakso, kata dia terdapat baso meteor yang merupakan campuran adonan bakso dengan cabai rawit di dalamnya dengan sajian sayur khas bakso Bandung.

Bakso ini berbeda karena ada sensasi pedas yang luar biasa saat menggigitnya.

Kemudian ada siomay asli Bandung yang khas dengan tahu, kol, pare yang disajikan khas Sunda dengan bumbu dominan kecap.

"Seblak mungkin menjadi makanan terbaru dari tatar Sunda yang sedang digandrungi di kota asalnya Bandung," ujar dia.

Seblak ini kata Aji dibuat dari campuran kerupuk dengan ceker ayam, daging, makaroni dicampur oleh sambel terasi.

"Dalam hal ini konsumen bisa memilih sambel terasi yang memiliki level kepedasan tertentu sesuai permintaan, ada yang biasa atau super pedas," kata dia.

Dia meyakini harga di rumah makannya cukup murah seperti nasi timbel atau nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk silinder dan disajikan dengan beragam lauk seperti goreng ayam, sayuran lalap dan sambal khas Bumi Parahyangan tersebut dijual seporsi Rp25 ribu.

Di samping mengutamakan harga dan menu, pihaknya juga mengutamakan selera orang Sunda khususnya yang sudah lama tidak pulang kampung.

Nasi yang disajikan merupakan nasi pulen dari beras Cianjur atau dari Jakarta.

Kemudian menyajikan masakan yang sama sekali belum pernah muncul di Sumbar seperti gepuk atau daging yang dikukus dengan bumbu tertentu.

Kemudian kupat tahu yang merupakan makanan cukup digemari di Bandung dengan bahan campuran lontong, tahu, toge disiram dengan sambal kuah kacang.

Ada lagi pepes peda atau pepes ikan asin yang dicampurkan daun singkong atau parutan kelapa dan dibungkus daun pisang kemudian dikukus.

Selain menyajikan kuliner kelas berat, dia juga menjual makanan ringan khas Sunda, seperti cireng yang merupakan tepung kanji digoreng dengan isi daging atau cabai hijau.

Kemudian ada combro atau oncom "dijero" yang terbuat dari parutan singkong kemudian digoreng dengan isi oncom atau tempe.

"Kesemuanya bisa dinikmati dengan Rp1000 per satuannya," ujarnya.

Khusus untuk minuman, es tawuran menjadi menu andalan di "Saung Kuring".

Dikatakan tawuran kata Aji untuk menggambarkan paduan isi bahan yaitu sejumlah buah yang dihancurkan kemudian ditambah susu dan santan kemudian es.

"Sejenis es buah namun memiliki rasa yang berbeda," katanya.

Di samping mengenalkan kuliner Sunda, Aji juga ingin menampilkan budaya Sunda dalam dekorasi bangunan.

Bila dilihat dari luar bangunan rumah makan itu berbentuk rumah joglo khas Jawa Barat yang beratapkan rumbia, kemudian pada beberapa sisi terdapat hiasan dinding khas Sunda atau alat musik seperti calung yang digantung.

Selain itu dalam menyajikan makanan kepada konsumen menggunakan budaya Sunda seperti penggunaan "boboko" atau bakul untuk nasi.

Tidak hanya itu musik yang ditampilkan merupakan lagu sunda atau alunan musik tradisional Sunda semisal kacapi, calung atau degung.


Eksistensi Sunda
Bagi Aji dan kawan-kawan mendirikan rumah makan "Saung Kuring" memiliki dua makna yang berbeda.

Pertama sebagai rumah makan pada umumnya yang tersedia fasilitas seperti menonton, pesta ulang tahun, dan mengakses internet.

Kedua sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat Sumbar, bahwa orang Sunda ada di ranah Minang.

Lokasinya, cukup strategis di Jalan Wahidin II Simpang Koramil nomor 5A, Simpang Haru Padang yang mana katanya merupakan sekretariat dari PWS Sumbar.

Dengan menyatu dengan sekretariat PWS tentu tujuannya untuk memperkuat eksistensi masyarakat Sunda di Sumbar.

"Rapat terus berjalan, dan warung juga buka," ujar dia.

Di samping itu tujuan utama mendirikan rumah makan tersebut untuk mendukung kemajuan PWS di Sumbar.

Menurutnya omzet yang didapat akan membantu dalam hal pendanaan khususnya pada kemajuan PWS yang berujung pada kemajuan budaya di Sumbar.

Itu sebabnya kata Aji semua pendukung rumah makan mulai dari koki masak, penyaji hingga kasir merupakan orang Sunda.

"Agar suasana Sunda lebih terasa dinikmati," kata dia.

Meski diutamakan untuk orang Sunda Aji juga melihat peluang konsumen dari pribumi Minang yang menyukai masakan di rumah makannya.

Sebab kata dia, di Kota Bandung banyak warga asal Minang yang telah mahir dan menyukai masakan Sunda.

Bila dilihat kata dia, semakin banyaknya warga Minang di Jawa Barat atau Banten pulang kampung ke Sumbar dan menetap menjadikan peluang menggaet konsumen semakin besar.

"Intinya semua masyarakat yang tinggal di Sumbar bisa mengenal dan mencicipi masakan, budaya, dan karakter masyarakat Sunda," ujar dia.

Respon positif dari adanya rumah makan "Saung Kuring" ini disampaikan beberapa warga di Padang seperti Neneng pegawai salah satu rumah sakit yang mengatakan masakan di rumah makan tersebut memiliki rasa yang berbeda.

Menurutnya seperti es tawuran dan jus yang dijual rasanya sedikit berbeda dari kebanyakan.

Gusri pegawai di Universitas Andalas yang merupakan warga asli Minang mengatakan meski terlihat sederhana "Saung Kuring" memiliki makanan yang tidak ditemukan di Sumbar.

"Biasanya kupat tahu atau nasi kuning saya temui di Bandung, sekarang ada di Padang," ujar perempuan berusia 31 tahun tersebut.

Salah satu pengusaha dalam bidang sablon di Padang Dani Setiawan mengatakan keberadaan "Saung Kuring" akan melengkapi masakan sunda dijual di Sumbar.

Sebelumnya beberapa ada dijual kuliner sunda seperti nasi timbel, sayur asem atau ayam cianjur yang banyak dijual di rumah makan di Sumbar

Dia meyakini keberadaan rumah makan ini menambah pengetahuan masyarakat Minang tentang beragamnya masakan Sunda. (*)







Editor : Ikhwan

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
    Pagi itu seharusnya Suril Dirman (59) bahagia karena bawang merah yang telah dipeliharanya dengan teliti selama dua ...
Baca Juga