Kamis, 29 Juni 2017 - 5 Syawwal 1438 H

Sumbar Identifikasi Potensi Penyebab Inflasi Jelang Ramadhan

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno.
Padang, (Antara Sumbar) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengidentifikasi sejumlah persoalan terkait bahan pangan bergejolak yang berpotensi memicu inflasi menjelang Ramadhan dan lebaran 2017.

"Persoalannya terletak pada stok pangan yang tersedia, distribusi, kebiasaan masyarakat dan aksi penimbunan. Ini harus diantisipasi sejak awal," kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno usai memimpin rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Padang, Kamis (20/4).

Menurutnya terkait ketersediaan stok pangan terutama cabai, sudah dilakukan nota kesepahaman dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan terutama jelang Ramadhan dan lebaran.

Sementara untuk distribusi, seluruh instansi terkait mulai dari provinsi hingga kabupaten dan kota diminta melakukan pantauan agar tidak terjadi kemacetan sehingga terlambat masuk ke pasar.

Persoalan lain adalah kebiasaan masyarakat yang cenderung melakukan pembelian bahan pangan dalam jumlah banyak sekaligus menjelang Ramadhan atau lebaran.

"Kebutuhan meningkat sementara stok tidak bertambah. Ini tentu akan menjadi penyebab naiknya harga hingga berpengaruh pada angka inflasi," katanya.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengubah kebiasaan tersebut dan pedagang juga diminta tidak mencari untung terlalu besar pada momen tersebut.

Sedangkan untuk mengawasi penimbunan barang oleh oknum, Dinas Perindustian dan Perdagangan Sumbar, menurutnya sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan pengawasan ke lapangan.

"Kita sudah lakukan sejumlah langkah antisipasi. Sekarang semua komponen harus jalan, jangan hanya selesai dalam rapat saja.

Persoalan ini sudah menahun dan harus diatasi dengan maksimal," ujar dia.

Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Provinsi Sumbar, Heri Nofiardi dalam kesempatan yang sama mengatakan untuk meredam kemungkinan kenaikan harga pangan di pasaran, sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga akan menggelar pasar murah selama Ramadan.

"Kita juga akan coba merangkul perusahaan yang ada di daerah untuk ikut melaksanakan kegiatan pasar murah ini," katanya.

Pemprov Sumbar, menurutnya juga akan menyurati kabupaten/kota untuk melaksanakan hal yang sama.

"Kegiatan pasar murah bukan sekedar untuk meredam gejolak harga tapi juga membantu menyediakan harga barang murah untuk masyarakat di tengah kemungkinan penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan tarif dasar listrik," katanya.

Heri berharap melalui upaya dan antisipasi yang telah disusun, pada Ramadan tahun angka inflasi Sumbar stabil, seperti 2016 yang tercatat terendah di Indonesia berada pada angka 0,18 persen. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : ikhwan Wahyudi
Padang (Antara Sumbar ) - Memasuki usia 65 tahun  Gazali menjadi  satu-satunya pria penghuni komplek perumahan karyawan ...
Baca Juga