"Mitos Vs Fakta" Industri Sawit Indonesia

id sawit

Kelapa sawit. (Antara)

Pihak Palm Oil Agribusiness Stategic Policy Institute (PASPI) selaku lembaga kajian agrobisnis dan strategi kebijakan kelapa sawit di tanah air kembali meluncurkan dan membedah buku berjudul "Mitos Vs Fakta, Industri Sawit Indonesia", dalam isu sosial, ekonomi dan lingkungan global, edisi kedua.

Peluncuran dan bedah buku yang dibuat dengan melibatkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia itu dilaksanakan di Universitas Andalas (Unand) Padang dihadapan civitas akademika kampus tersebut pada pekan lalu.

Buku tersebut ditulis Dr Tungkol Sipayung selaku Direktur Eksekutif PASPI.

Adapun mitos dan fakta yang dikupas dalam buku ini antara lain, perkebunan kelapa sawit lebih ekspansif dari tanaman minyak nabati di dunia.

Faktanya perkembangan perkebunan kelapa sawit dunia yang dinilai revolusioner (cepat) sesungguhnya hanya dibesar-besarkan saja.

Data menunjukan bahwa ekspansi pekebunan kelapa sawit dunia jauh lebih rendah dibandingkan perkebunan penghasil minyak nabati yang lain seperti kedelai, bunga matahari dan repeseed.

Lalu mitos perkebunan sawit dunia lebih luas dari perkebunan minyak nabati lainnya, sehingga produksi minyak sawit dunia lebih tinggi dari minyak nabati lain.

Faktanya justru luas areal tanaman penghasil minyak astiri dunia pada tahun 2016 mencapai sekitar 200,5 juta hektar. Dari luas tersebut 61 persen atau 121 juta hektar adalah kebun kedelai, sedangkan perkebunan kelapa sawit hanya 10 persen saja.

Mitos lain, perkebunan kelapa sawit menggunakan pupuk kimia (anorganik) yang lebih tinggi dari kebun penghasil minyak nabati lainnya dan menghasilkan residu (polusi) yang mencemari tanah dan air lebih tinggi.

Faktanya, kegiatan pertanian umumnya menggunakan pupuk kimia seperti nitrogen, fospor dan kalium serta pestisida. Berdasarkan data justru perkebunan minyak kedelei paling tinggi menggunakan pupuk N, P, K, pestisida maupun energi fosil.

Sedangkan perkebunan kelapa sawit mengunakan pupuk, pestisida dan energi fosil yang relatif rendah hingga polusi residu ke tanah dan air juga kecil.

Selanjutnya mitos menyebutkan perkebunan kelapa sawit lebih boros menggunakan air dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lainnya.

Faktanya, dari penelitian menemukan hal menarik tentang tanaman yang paling hemat air dalam menghasilkan bioenergi yakni kelapa sawit.

Lalu mitos kelapa sawit Indonesia merupakan monokultur terluas di dunia.

Sedangkan faktanya, semua komoditas pertanian yang dibudidayakan pada kawasan pertanian merupakan monokultur. Untuk kelapa sawit di Indonesia bukanlah komoditi monokultur terluas di dunia baik antar jenis komoditi maupun dalam kelompok komoditi tanaman minyak nabati dunia.

Kemudian mitos minyak sawit merugikan kesehatan manusia.

Faktanya, tuduhan bahwa minyak sawit tidak baik untuk kesehatan sudah lama menjadi kampanye negatif dari produsen minyak nabati lainnya, khususnya minyak kedelai karena kalah bersaing dengan minyak kelapa sawit.

Tuduhan itu tidak beralasan karena telah banyak bukti-bukti ilmiah yang menunjukan bahwa konsumsi minyak sawit tidak berdampak buruk pada kesehatan manusia.

Bahkan dari segi kandungan gizi yang dimiliki minyak sawit justru berkontribusi pada pecegahan berbagai penyakit degeneratif seperti jantung, kanker dan lainnya, karena minyak sawit tidak mengandung kolesterol.

Lalu mitos untuk mengantikan diesel, biodiesel berbahan baku minyak nabati kedelei, atau bunga matahari lebih tinggi menghemat emisi GHG dibanding bioiesel dari bahan baku minyak sawit.

Faktanya bebagai penelitian baik di Indonesia maupun di Eropa menunjukan bahwa dengan menggunakan life cycle analysis menggantikan bahan bakar diesel/solar dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi rumah kaca dari mesin diesel sekitar 50 hingga 60 persen.

Kemudian mitos yang menyebutkan minyak sawit merugikan negara-negara maju.

Sedangkan faktanya manfaat minyak sawit Indonesia tidak saja dinikmati masyarakat negeri ini melainkan hampir seluruh warga dunia merasakan manfaat melalui kegiatan ekspor minyak sawit Indonesia ke sejumlah negara.

Selanjutnya mitos yang mengatakan minyak sawit merugikan negara-negara berpendapatan rendah.

Faktanya harga minyak sawit di pasar internasional konsisten murah dibanding minyak nabati lainnya. Harga minyak sawit yang lebih kompetitif telah memberi manfaat bagi masyarakat dunia khususnya di negara-negara berpendapatan rendah.

Masih puluhan mitos tentang industri sawit di Indonesia dan dikupas dalam buku itu. Semunya dapat dijawab atau dipatahnya fakta berdasarkan penelitian atau kenyataan di lapangan yang dituangkan dalam buku tersebut.

Dibedah
Buku "Mitos Vs Fakta, Industri Sawit Indonesia", dalam isu sosial, ekonomi dan lingkungan global, edisi kedua itu lalu dibedah dengan pembica Prof Afrizal (dosen Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Unand) dan Dr Ira Wahyudi Syarfi (dosen Fakutas Pertanian Unand).

Lalu, Prof Reni Mayerni (dosen Fakutas Pertanian Unand) dan Prof Yomariza (juga dosen Fakultas Pertanian Unand).

Pada kata pengantar buku setebal 167 halaman tersebut, sang penulis Dr Tungkol Sipayung menyebutkan buku "Mitos VS Fakta", Industri Sawit Indonesia itu pada cetakan pertama telah dicetak 10 ribu eksemplar dan sudah habis didistribusikan baik di dalam maupun di luar negeri.

"Permintaan terhadap buku itu terus bertambah dari berbagai kalangan, terutama masyarakat yang memberikan perhatian pada industri minyak sawit nasional," kata Tungkol.

Ia menjelaskan PASPI juga telah melaksanakan diskusi dan bedah buka tersebut dengan forum akademisi, dosen dan mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi (PT) terkemuka di Indonesia.

PT itu antara lain Univesitas Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Sriwijaya, Universitas Palangka Raya, Universitas Mulawarman, Univesitas Hasanudin dan Institut Teknologi Bandung.

Masukan berharga banyak diperoleh dari diskusi dan bedah buku di PT tersebut, tambahnya.

Buku cetakan kedua ini mengalami berbagai perbaikan dan pemutahiran data yang disajikan, juga masukan hasil diskusi dan bedah buku cetakan pertama. Pemutahiran data telah menambah substansi pada setiap BAB di edisi kedua ini, katanya.

Ia menjelaskan beberapa penambahan dan pengayaan pada edisi kedua ini antara lain isu keterkaitan ekonomi perkotaan dan pedesaan dengan perkebunan sawit.

Lalu isu kaitan antara ekspansi kebun sawit dengan pengurangan lahan padi nasional. Kemudian kaitan antara ekonomi petani, peternak, nelayan dengan masyarakat yang bekerja di kebun sawit. Selanjutnya isu driver deforestasi global, ekspansi kebun sawit dan pelestarian biodiversity di Indonesia.

Isu lainnya tentang konservasi tanah dan air serta potensi sawit sebagai penghasil biofuel generasi kedua.

Tungkol Sipayung mengatakan sebagaimana maksud buku cetakan pertama, maka kami berharap kehadiran buku cetakan kedua ini dapat menjadi satu bahan dan penyumbang pada upaya promosi industri sawit Indonesia dalam hadapi saingan minyak nabati global.

Sementara Ketua Dewan Pembina PASPI Prof Bungaran Saragih menjelaskan bahwa industri sawit merupakan industri strategis dalam perekonomian Indonesia baik saat ini atau masa yang akan datang.

Dikatakan strategis karena kontribusi industri minyak sawit yang besar dalam ekspor non migas, penciptaan lapangan kerja, pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan.

Kedepan industri ini akan menjadi bagian penting sektor ekonomi apalagi pada level komoditas yang dapat berkontribusi yang begitu besar, inklusif dan luas seperti industri minyak sawit.

Ia menyebutkan dalam dekade terakhir berbagai isu sosial, ekonomi dan lingkungan telah digunakan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anti sawit sebagai tema kampanye negatif atau hitam terhadap industri ini di Indonesia.

Jika hal ini dibiarkan selain menyesatkan banyak orang, juga dapat merugikan industri sawit Indonesia, ujarnya.

Oleh sebab itu diperlukan edukasi publik untuk mengoreksi pandangan-pandangan yang terlanjur keliru di masyarakat tentang industri minyak sawit.

Dalam kaitan tersebut, ia menyambut baik inisiatif PASPI menyusun buku "Mitos VS Fakta", Industri Sawit Indonesia. Buku ini diharapkan dapat menjawab bebagai mitos yang ditujukan pada industri sawit dalam negeri selama ini.

Selain itu buku ini juga mengimformasikan dan mengedukasi masyarakat baik di dalam negeri maupun di dunia internasional tentang industri minyak sawit Indonesia, tambah mantan Mentri Pertanian RI periode 2000-2004 itu.

Penulis buku ini Dr Tungkot Sipayung menegaskan tema dan materi yang diusung sering tidak lagi mempedulikan benar atau salahnya, bahkan memasukan kebohongan-kebohongan.

Menurutnya paradigma kampanye para LSM anti sawit adalah kebohongan-kebohongan yang dikatakan berulang-ulang dan diberitakan melalui media massa secara luas dan intensif yang membuat suatu saat kebohongan itu akan diterma publik sebagai suatu kebenaran.

Tapi saat ini banyak masyarakat global, para pejabat pemerintah, mahasiswa, akademisi bahkan anak-anak dan remaja yang telah terperangkat dan tersesat dalam paradigma LSM anti sawit tersebut, yang telah membuat masyarakat keliru antara mitos dan fakta melihat industri kelapa sawit. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar