Senin, 29 Mei 2017 - 4 Ramadhan 1438 H

Kemenkes: Pertambangan dan Pestisida Picu Kelainan Bayi

Ilustrasi.
Jakarta, (Antara Sumbar) - Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Eni Gustina mengatakan pertambangan ilegal dan penggunaan pestisida berlebihan memicu kelainan bawaan bayi sejak dalam kandungan maka hal ini perlu perhatian serius.

Dalam temu media di Jakarta, Senin, Eni mengatakan pihaknya bermitra dengan 19 rumah sakit yang kerap menangani pasien dari daerah memiliki risiko pencemaran lingkungan dan penggunaan pestisida yang tinggi.

Dari data Badan Litbangkes Kemenkes menyebutkan data kelaian bawaan di 19 RS itu dihimpun pada September 2014-Desember 2016. Data menunjukkan terdapat 494 kasus yang memenuhi kriteria.

Kasus terbanyak dari kelainan bawaan adalah kelainan kaki bayi (Talipes) sebanyak 102 kasus (20,6 persen), celah bibir dan atau langit-langit serta kelainan syaraf otak "Neural Tube Defects" 99 kasus (20 persen) dan kelainan dinding perut tipis Omphalochele 58 kasus (11,7 persen).

Persoalan lainnya yaitu kelainan organ pencernaan Atrenesia ani 50 kasus (10,1 persen) dan kelainan tidak adanya dinding perut Gastroschisis 27 kasus (5,5 persen).

Eni mengatakan kasus kelainan itu sudah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo terutama terkait banyaknya pertambangan liar dan penggunaan pestida berlebihan yang dalam prosesnya banyak mencemari lingkungan sekitar. Dia berharap pertambangan tersebut dapat ditangani dengan baik sehingga tidak merugikan kesehatan masyarakat.

Menurut dia, kelainan bawaan pada janin dan bayi merupakan tantangan karena tidak hanya merugikan secara kesehatan generasi baru tetapi juga memberi tekanan psikologis bagi bayi dan keluarganya.

Dengan begitu, kata dia, persoalan itu dapat memicu terjadinya stigma dan diskriminasi yang secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita dan juga seluruh anggota masyarakat.

Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes mengatakan pencemaran lingkungan tersebut sangat mempengaruhi tumbuh kembang janin dan bayi. Penyebab itu termasuk pola hidup masyarakat yang membuat janin kekurangan asam folat, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol serta zat teratogenik yang merusak embrio dan kurangnya aktivitas fisik si ibu. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Ikhwan Wahyudi
Padang, (Antara Sumbar) - Hasil survei yang diungkap Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ruang Anak Dunia (Ruandu) Foundation cukup ...
Baca Juga