Selasa, 25 April 2017 - 29 Rajab 1438 H

Ekspor Sumbar Februari 2017 Naik 10,92 Persen

(ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama?16)
Padang, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat ekspor provinsi itu pada Februari 2017 mencapai 223,38 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 10,92 persen dibandingkan Januari 2017 yang mencapai 201,38 juta dolar AS.

"Golongan barang paling banyak diekspor pada Januari 2017 adalah lemak dan minyak hewan senilai 146,01 juta dolar AS, karet dan barang dari karet sebesar 52,57 juta dolar AS, dan bahan bakar mineral 6,77 juta dolar AS," kata Kepala BPS Sumbar, Sukardi di Padang, Kamis.

Menurut dia kenaikan ekspor nonmigas Februari 2017 jika dibandingkan Januari 2016 terjadi ke negara tujuan yaitu Amerika Serikat naik sebesar 74,98 persen, Singapura 25,96 persen dan Tiongkok 48,94 persen.

Sementara itu ekspor ke beberapa negara lain mengalami penurunan yaitu India turun 37,10 persen.

Akan tetapi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Februari 2017 tetap India sebesar 56,44 juta dolar AS, Amerika Serikat 50,42 juta dolar AS, dan Singapura 23,78 juta dolar AS.

Ekspor ke India memberikan peranan sebesar 34,41 persen terhadap total ekspor Sumbar, Amerika Serikat 18,65 persen dan Singapura 10,44 persen dan Tiongkok 7,08 persen.

Sejalan dengan itu ekspor produk industri pada Februari 2017 mengalami penaikan sebesar 8,21 persen dibanding Januari 2017, lanjut dia.

Sementara ekspor sektor pertanian juga mengalami penurunan sebesar 41,81 persen, ujarnya.

Ia menambahkan kontribusi sektor industri terhadap total ekspor Sumbar periode Januari- Februari sebesar 97,44 persen, dan kontribusi sektor pertanian sebesar 0,96 persen.

Sebelumnya Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara pada temu wartawan daerah mengatakan saat ini ekspor dan impor Indonesia mengalami defisit dan jika rupiah terlalu kuat maka yang akan terjadi adalah biaya impor murah sehingga produksi dalam negeri turun.

Akibatnya impor akan semakin besar mengalami defisit dan ekspor menjadi tidak kompetitif, katanya.

Mirza menyebutkan pada 2013 ekspor dan impor Indonesia mengalami defisit sekitar 31 miliar dolar AS, 2014 17 miliar dolar AS dan pada 2016 sekitar 21 miliar dolar AS.

Namun, menurutnya pada kurun waktu 2000 sampai 2010 ekspor dan impor Indonesia sempat mengalami surplus karena ketika itu harga komoditas sedang bagus.

Ia mengatakan ekspor Indonesia didominasi oleh pertambangan dan perkebunan namun setelah 2010 harga komoditas tersebut turun. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Hendra Agusta dan Fathul Abdi
          Mulai Minggu (23/4) dan setiap akhir pekan ke depan di kawasan wisata Pantai Padang, Sumatera ...
Baca Juga