Senin, 26 Juni 2017 - 2 Syawwal 1438 H

Padang Deflasi 0,13 Persen pada Februari 2017

(ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)
Padang, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat kota Padang mengalami deflasi 0,13 persen pada Februari 2017 disebabkan penurunan harga pada kelompok bahan makanan.

"Deflasi disebabkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan yang disumbang oleh cabai merah dan daging ayam ras," kata Kepala BPS Sumbar, Sukardi di Padang, Kamis.

Ia menyebutkan di Padang pada Februari 2017 komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah, daging ayam ras, petai, beras, kentang, ayam hidup, kelapa, telur ayam ras, daging sapi, kangkung, dan beberapa komoditas lainnya.

Namun, beberapa komoditas tetap mengalami kenaikan harga yaitu tarif listrik, tarif pulsa ponsel, mobil, jengkol, minyak goreng, emas perhiasan, bawang merah, teri, rokok putih, bensin, dan beberapa komoditas lainnya.

Dari 23 kota di Sumatera pada bulan Februari 2017, deflasi tertinggi terjadi di Jambi sebesar 1,40 persen dan terendah di Kota Bungo 0,02 persen, sementara Padang berada pada posisi ke-11 dari 17 kota yang mengalami deflasi secara nasional.

Sukardi menjelaskan deflasi adalah suatu keadaan harga-harga secara umum turun dan nilai uang bertambah.

Jika inflasi adalah keadaan yang terjadi akibat jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar, kata dia.

Sebelumnya, Pemerintah provinsi Sumatera Barat mewajibkan semua Aparat Sipil Negara (ASN) di lingkungan provinsi harus menanam cabai di pekarangan atau polybag sebagai salah satu strategi mengatasi kelangkaan dalam rangka pengendalian inflasi.

"Ada 23 ribu ASN di lingkungan pemprov Sumbar, semuanya akan diberikan bibit cabai untuk dibudidayakan di rumah masing-masing sehingga pada waktu tertentu cabai tidak lagi langka," kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Irwan mengatakan untuk bibit disiapkan oleh Dinas Pertanian dan akan dibagikan secara gratis sehingga ASN cukup merawat saja dan memanen ketika sudah berbuah.

"Bisa dibayangkan kalau satu ASN menanam 10 batang cabai, dan dilakukan 23 ribu ASN tentu hasilnya bisa memenuhi kebutuhan cabai," katanya. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
          Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja menetapkan sistem pendidikan baru ...
Baca Juga