Selasa, 27 Juni 2017 - 3 Syawwal 1438 H

LAPORAN- Kunjungan Kerja Walikota Padang ke Australia

Diskusi antara delegasi Kota Padang dengan anggota Komunitas Rumah Gadang dan Ikatan Alumi Institut Teknologi Bandung Western Australia (IA-ITB WA), terlihat Wali Kota Mahyeldi Ansharullah didampingi Wakil Ketua DPRD Padang Wahyu Iramana Putra. Acara di koordinir dan diselenggarakan oleh salah satu anggota Rumah Gadang. (cc)
Padang, (Antara/Rilis) Kunjungan selama beberapa hari ke Australia telah meninggalkan kesan yang sangat berarti bagi Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah, yang secara khusus mengaku memetik banyak pelajaran baik untuk diterapkan di Tanah Air.
“Selama saya berada di Australia, saya melihat banyak hal baik yang bisa ditiru di Padang,” ujar Walikota Padang tiba yang di Perth pada Kamis (10 November 2016) untuk menghadiri forum promosi perdagangan dan investasi Indonesia di Australia, Indonesia Business Summit dan Indonesia Trade Fair yang dilaksanakan pada 11-13 November 2016 di Perth Exhibition and Convention Centre.
Salah satu pelajaran yang dipetik oleh Walikota Padang adalah bahwa pendekatan humanis di semua program pemerintah telah lama dipraktikkan di Australia. Dengan pendekatan ini, banyak program bisa sukses dilaksanakan dan resistensi dari masyarakat bisa dikatakan minim atau nyaris nihil.

Salah satu agenda selingan yang dilakukan oleh Walikota Padang selama berada di Perth adalah memberikan ceramah publik di kampus the University of Western Australia (UWA) pada Senin (14 November 2016). Acara yang digelar oleh Centre for Muslim States and Societies (CMSS) UWA itu dimoderatori oleh Dr Shamim Samani, yang sangat meminati riset terkait Indonesia.
Dalam presentasinya, Walikota Padang memaparkan kondisi demografi Kota Padang yang terdiri atas berbagai etnis dengan dominasi suku Minang hingga 90 persen.
Pada tahun 2015, Kota Padang telah menerima lebih dari 30 penghargaan, di antaranya sebagai Kota Peduli Hak Azasi Manusia dari Kementerian Hukum dan HAM dan Satya Lencana Pembangunan untuk walikota yang sukses menerapkan program pengentasan kemiskinan.
Lebih lanjut ia menjelaskan empat prinsip yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Padang adalah pertama bahwa keberagaman merupakan bagian dari ajaran Islam. Prinsip kedua adalah penerapan hak dan perlakuan yang sama kepada semua penduduk, kemudian implementasi program yang berdasarkan kepada kearifan lokal, dan keempat adalah prinsip pendekatan yang humanis.

Walikota mengutip beberapa idiom kearifan lokal masyarakat Minang yaitu “adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah” serta “agamo mangato adat mamakai”.

Mahyeldi yang pernah menjadi Wakil Walikota Padang periode 2009-2014 juga membahas kesuksesan program pemindahan para pedagang dari Pantai Muaro. Setelah tertunda beberapa tahun, pemindahan akhirnya bisa dilakukan secara damai dan kondusif berkat pendakatan yang humanis terhadap semua pihak yang terdampak oleh program itu.

Khusus di paparan program pengentasan kemiskinan, Mahyeldi menjelaskan, “berbagai program pengentasan kemiskinan kami dibiayai oleh dana zakat. Zakat ada dua, zakat fitrah yang wajib ditunaikan pada bulan suci Ramadhan dan zakat mal yang diwajibkan kepada orang-orang yang pendapatannya memenuhi nisab selama setahun.”
Sepanjang tahun 2015, besaran zakat yang terkumpul bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah mencapai Rp21 miliar dan didistribusikan kepada masyarakat ke berbagai program sosial: Padang Religius, Padang Sejahtera, Padang Sehat, Padang Cerdas, Padang Makmur, dan Padang Peduli.
Hingga saat ini, sumber utama pembayaran zakat di Padang adalah masyarakat dan pegawai negeri sipil yang bekerja untuk pemerintah kota—yang jumlahnya mencapai 14.000 orang.

Pengelolaan zakat telah diatur dalam Undang-undang No 23 tahun 2011, di mana dana yang terkumpul “dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam usaha produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat” (Pasal 27 ayat 1).

Dalam sesi tanya jawab, seorang warga Australia bertanya tentang kemudahan berinvestasi di Kota Padang dan apakah akan dikenakan kewajiban membayar zakat juga sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar.

Mahyeldi menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Padang sangat berkepentingan untuk menjamin kemudahan berbisnis dan berinvestasi. Pihaknya sangat terbuka dengan peluang investasi dari Australia dan siap memberikan dukungan dari berbagai aspek termasuk perizinan dan penghapuskan kewajiban pajak bila besaran investasi melebihi Rp1 triliun.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang menekuni ilmu biologi di UWA, Oki Hidayat, sangat mengapresiasi presentasi Walikota Padang yang mengedepankan pendekatan humanis-religius dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan.

Komentar serupa juga disampaikan oleh Dina Eka Putri, mahasiswi program pascasarjana kesehatan gigi UWA, yang melihat pendekatan dana zakat untuk membiayai program kemiskinan sangat patut ditiru sebab mekanisme itu memberdayakan sekaligus merangkul semua kalangan di masyarakat.

“Ide pemanfaatan zakat penghasilan PNS untuk mengentaskan kemiskinan bias menjadi terobosan bagi Pemerintah Daerah (Pemda) lain dalam memanfaatkan dana non-APBD,” ujar Agung M.H. Dorodjatoen, mahasiswa S3 ekonomi geografi di UWA.
Kuliah publik Walikota Padang di kampus UWA juga turut difasilitasi Ikatan Alumi Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Komisariat Western Australia.

“Salah satu fokus dari organisasi kami saat ini meningkatkan profil Indonesia di Western Australia untuk mendorong kerjasama yang lebih konkrit antara Western Australia dan Indonesia. Dan paparan publik Walikota Padang di UWA ini merupakan salah satu upaya kami memperkenalkan Indonesia beyond Bali,” ujar Hendro Fujiono, Ketua IA ITB Komisariat Western Australia.

“Lebih jauh lagi, kesempatan berdialog dengan pemimpin dan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia akan membantu memelihara nasionalisme dan optimisme warga Indonesia yang berada di luar negeri. Optimisme dan nasionalisme ini lah yang kami harapkan akan terus menjadi bahan bakar untuk terus berkarya bagi Indonesia dari Australia, “ tambahnya.

Selain memberikan kuliah publik di UWA, Walikota Padang juga bersilaturahim dengan komunitas Minang di Perth—Rumah Gadang—dan bersantai dengan Gowestralia—komunitas Indonesia penggemar olahraga bersepeda. (Ditulis Oleh Ella Syafputri)



Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
          Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja menetapkan sistem pendidikan baru ...
Baca Juga